1.
TEMA TULISAN
Dilihat dari sudut sebuah
karangan yang telah selesai, tema dapat diartikan suatu amanat utama yang
disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Tema dapat diseput juga topik
atau poko pembicaraan dan tujuan yang ingin dicapai. Bersarkan kedua hal
tersebut tema dapat diartikan pula sebagai suatu perumusan dari topik yang akan
dijadikan landasan pembicaraan dan tujuan yang akan dicapai melalui topik tadi.
Untuk merumuskan sebuah tema yang baik, kita harus memperhatikan kriteria-kriteria
sebagai berikut:
a.
Kejelasan
Kejelasan merupakan hal yang
sangat esensial bagi sebuah tulisan yang baik. Kejelasan dapat dilihat dari
gagasan sentralnya. Kalau gagasan sentralnya jelas, tema tersebut
dapat dirumuskan dalam sebuah kalimat yang jelas. Kejelasan tema dapat pula dilihat
dari subordinasi atau rincian-rinciannya.
b.
Kesatuan
Kesatuan
dapat dilihat dari adanya satu gagasan sentral yang menjadi landasan seluruh
tulisan itu. Sebenarnya kejelasan dan kesatuan merupakan hal yang sama, hanya
segi penekannannya yang berbeda. Kesatuan lebih melihat dari persoalan bahwa hanya
ada satu gagasan sentral dalam setiap tulisan. Setiap rincian dari gagasan
sentral tadi hanya sebagai penunjang atau pendukung untuk memperjelas pesan
yang terkandung dalan gagasan sentral.
c.
Perkembangan
Perkembangan
disini lebih ditekankan
kepada pengembangan paragraf. Pengembangan paragraf dapat dilihat dari dua
sudut, yaitu pertama, apakah gagasan yang lebih tinggi sudah diperinci secara
maksimal atau belum, kedua, apakah perincian tersebut telah disusun
secara logis dan sistematis.
d.
Keaslian
Keaslian dapat diukur dari sudut
pilihan pokok persoalan, sudut pandang, pendekatan, rangkaian kalimat, pilihan
kata, dan sebagainya.
e.
Judul
Sebuah judul tulisan hendaknya
memenuhi kriteria sebagai berikut:
1.
Judul
harus relevan, artinya, sebuah judul harus mempunyai pertalian yang
erat dengan temanya, atau ada pertalian dengan beberapa bagan penting dari tema
itu.
2.
Judul
harus provokatif, artinya, judul harus disusun sedemikian rupa sehingga
dapat menimbulkan keingintahuan dari tiap pembaca terhadap isi tulisan secara
keseluruhan.
3.
Judul harus singkat, artinya, judul tidak boleh disusun
dalam bentuk kaimat panjang.
2. KERANGKA TULISAN
Kerangka tulisan merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis-garis
besar dari suatu tulisan yang lengkap. Kerangka tulisan dapat membantu penulis dalam
hal berikut ini:
1.
Untuk menyusun tulisan secara teratur.
2.
Memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda.
3.
Menghindari pengulangan pembahasan topik yang
sama.
4.
Memudahkan penulis untuk mencai materi penunjang.
Dalam menyusun kerangka tulisan ada beberapa langkah yang harus kita lalui,
yaitu:
a.
Merumuskan
tema;
b.
Mangadakan
inventarisasi topik-topik bawahan;
c.
Mengadakan
evaluasi terhadap topik-topik tadi;
d.
Mengulang
langkah kedua dan ketiga; dan
e.
Menyusun
pola tulisan.
Untuk memperoleh
suatu susunan krangka tulisan yang teratur, biasanya digunakan beberapa cara
atau tipe susunan, yaitu;
a.
Pola alamiah,
yang terdiri atas urutan waktu, urutan ruang, dan topik yang ada.
b.
Pola logis,
yang terdiri atas urutan klimaks dan anti klimaks, urutan
kausal, urutan pemecahan masalah, urutan umum - khusus,
urutan pamiliaritas, dan urutan akseptabilitas.
Kerangka tulisan dapat dibedakan berdasarkan sifat perinciannya yang
terdiri atas keranka tulisan sementara dan kerangka tulisan formal dan
berdasarkan perumusan teksnya yang terdiri atas kerangka kalimat dan kerangka
topik.
3. KAIDAH KEBAHASAAN
a.
Unsur-Unsur Kalimat
1.
Subjek
Ciri-ciri subjek
a.
Dapat
menjawab pertanyaan apa? atau siapa? Yang
dibicarakan.
b.
Umumnya berkelas kata
benda.
c.
Berada di awal kalimat.
d.
Dapat dilekati partikel –lah atau –kah.
e.
Dapat diikuti kelas kata tugas ini atau itu.
f.
Dapat diikuti oleh bentuk klitik –ku, -mu, dan –nya.
g.
Dapat dimulai dengan kata tugas yang.
h.
Dapat dibatasi kata kopula seperti adalah, ialah, yakni, merupakan, dan yaitu.
i.
Bisa berupa kata atau frasa.
2.
Predikat
Ciri-ciri
predikat
a. Dapat
menjawab pertanyaan apa, siapa,
mengapa, dan bagaimana?
b. Pada
umumnya berada di belakang subjek.
c. Umumnya
berkelas kata kerja.
d. Bisa
berupa kata atau frasa.
3.
Objek
Ciri-ciri
objek
a.
Dapat menjawab pertanyaan apa atau siapa yang berada di belakang
predikat?
b.
Umumnya berkelas kata benda.
c.
Berada di belakang kata kerja aktif transitif.
d.
Bisa menduduki fungsi subjek dalam kalimat
pasif.
e.
Dapat diganti dengan pronomina –nya.
4. Pelengkap
Ciri-ciri
pelengkap
a.
Bisa berkelas kata benda, kerja, atau sifat.
b.
Berada di belakang predikat intransitifatau di
belakang objek.
c.
Tidak bisa menduduki fungsi subjek dalam kalimat
pasif.
d.
Tidak dapat diganti dengan pronomina –nya.
5.
Keterangan
Ciri-ciri
keterangan
a.
Dapat menjawab pertanyaan kapan, di mana, ke mana, dari mana, untuk
apa, dengan apa, dengan siapa, kepada siapa, berapa kali, tindakan dilakukan?
b.
Umumnya berupa frasa.
c.
Umumnya berupa frasa benda.
d.
Memiliki sifat bebas.
Fungsi
keterangan dapat menyatakan keterangan waktu, sebab, tempat, tujuan, cara,
penyerta, perbandingan, dan saling.
b.
Jenis-jenis
kalimat berdasarkan strukturnya
1.
Kalimat tunggal, yaitu kalimat yang hanya
memiliki satu unsur subjek dan satu unsur predikat atau satu pola kalimat.
2.
Kalimat majemuk, yaitu kalimat yang memiliki dua
pola kalimat atau lebih.
Kalimat majemuk terbagi atas tiga kelompok,
yaitu
a.
Kalimat majemuk setara, yaitu kedua pola kalimat
atau lebih yang membentuk kalimat itu sederajat. Pola sederajat ini bisa
menggambarkan setara menggabungkan, setara memilih, dan setara mempertahankan
b.
Kalimat majemuk bertingkat, yaitu kalimat
yang hubungan pola-pola kalimat pembnetuknya tidak sederajat. Salah satu pola
kalimatnya menduduki fungsi induk kalimat dan pola lainnya menduduki fungsi
anak kalimat.
c.
Kalimat majemuk campuran, kalimat yang terdiri
dari satu pola atasan dan sekurang-kurangan dua pola bawahan atau sebaliknya.
c.
Kalimat
Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk
menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pembaca atau
pendengar seperti apa yang ada dalam pikiran penulis atau pembicara. Kalimat
efektif memiliki ciri-ciri yang sangat khas, yaitu kesepadanan struktur,
kepararelan, ketegasan, kehematan kecermatan, kepaduan dan kelogisan. Berikut
ini kita bahas ciri-ciri kalimat efektif tersebut satu per satu.
1.
Kesepadanan
Stuktur
Yang
dimaksud dengan kesepadan di sisi adalah keseimbangan antara pikiran atau
gagasan dengan struktur bahasa yang dipakai.
Kesepadanan kalimat memiliki ciri sebagai berikut
a.
Kalimat itu memiliki subjek dan predikat yang
jelas. Kejelasan fungsi subjek dan predikat dalam kalimat dapat dilakukan
dengan menghindari pemakaian kata depan di, dalam, bagi, untuk, pada, dan
sebagainya di depan subjek.
Contoh:
Bagi semua
mahasiswa harus membayar uang kuliag. (Salah)
Semua mahasiswa harus membayar uang kuliah. (Benar)
b.
Tidak memiliki dua subjek.
Contoh:
Soal
itu saya kurang jelas.
Kalimat di atas memiliki dua subjek yaitu soal itu dan saya. Munculnya dua subjek
tersebut diakibatkan oleh proses penggabungan kalimat yang tidak tepat. Kalimat
itu sebenarnya berasal dari dua kalimat tunggal yang memiliki predikat yang
sama dan subjeknya berbeda. Kalau kita uraikan, kalimat tersebut
maka akan menjadi sebagai berikut: Soal itu kurang
jelas; Saya kurang
jelas.
Untuk menghindari terjadinya subjek ganda seperti kalimat di atas
maka salah satu subjek harus diposisikan sebagai keterangan dengan menyisipkan
kata bagi atau
kata mengenai. Perhatikan
kalimat berikut: Soal itu
bagi saya kurang jelas; Saya kurang jelas mengenai soal itu.
c.
Kata hubung intrakalimat tidak
dipakai pada kalimat tunggal.
Contoh:
Kami
datang agak terlambat. Sehingga tidak
bisa mengikuti acara pertama.
Kata sehingga pada kalimat di
atas mengawali kalimat tunggal, padahal kata hubung tersebut harus digunakan
dalam tataran kalimat majemuk bukan pada kalimat tunggal.
Kedua
kalimat tersebut supaya menjad kalimat yang efektif harus digabungkan sehingga
membentuk kalimat majemuk.
Kami
datang agak terlambat sehingga tidak
bisa acara pertama.
d.
Predikat kalimat tidak boleh di dahului oleh
kata yang.
Penggunaan
kata hubungan yang di
antara subjek dan predikat mengakibatkan fungsi predikat menjadi lesap atau
hilang. Fungsi predikat yang didahului oleh kata hubung yang bergeser
fungsinya menjadi keterangan.
Contoh:
Sekolah
kami yang terletak
di depan bioskop Gunting.
S K
Kalimat
di atas tidak mempunyai predikat, hanya berpola S – K. Hal ini,
mengakibatkan kalimat tersebut tidak memenuhi syarat sebagai kalimat karena
salah satu syarat kalimat adalah memiliki unsur S – P. Agar kalimat itu mnjadi
efektif maka kata hubung yang harus
dihilangkan.
Sekolah
kami terletak di depan bioskop Gunting.
S P K
2.
Kepararelan
Kepararelan adalah kesamaan
bentuk kata yang digunakan dalam kalimat, artinya, dalam kalimat
yang mempunyai pemberian atau uraian kalau bentuk pertama menggunakan kata
benda maka bentuk kedua dan seterusnya harus menggunakan kata benda. Kalau
bentuk pertama manggunakan kata kerja maka bentuk kedua dan seterusnya harua
menggunakan kata kerja.
Contoh:
Tahap
terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, dan pengujian sistem pembagian air.
Pada
kalimat di atas ada satu bagian yang berbeda yaitu kata memasang sedangkan dua bagian pemberian lainnya berbentuk pengecatan
dan pengujian.
Perbaikan kalimat diatas bisa
dilakukan dengan cara menyejajarkan bentuk yang ada dalam pemerian, yaitu:
Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan, dan pengujian
sistem pembagian air.
Atau:
Tahap
terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan mengecat tembok, memasang
penerangan, dan menguji sistem
pembagian air.
3.
Ketegasan
Yang dimaksud dengan ketegasan di
sini adalah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Ada berbagai
cara unuk melakulan penegasan terhadap ide pokok, yaitu meletakan ide pokok
yang akan ditonjolkan di depan kalimat, membuat urutan kata yang logis, melakukan
pengulangan kata, melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan, dan
menggunakan partikel penegas.
Contoh:
Harapan Presiden adalah agar
rakyat membangun bangsa dan negara.
Bukan seratus,
seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah ia telah
membantu anak-anak terlantar.
Saya suka akan kecantikan
mereka, saya suka akan
kelembutan mereka.
Anak itu malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.
Saudaralah yang bertanggung jawab.
4. Kehematan
Kehematan dalam kalimat efektif
adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau menghindari penggunaan kata, frasa
yang dianggap tidak perlu.
Ada beberapa kriteria yang
harus diperhatikan dalam memenuhi unsur kehematan, yaitu:
a.
Menghindari
pengulangan subjek.
Contoh:
Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke pesta
itu. (tidak hemat)
Karena tidak diundang, dia tidak datang ke pesta
itu. (hemat)
b.
Menghindari
pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
Contoh:
Ia memakai baju warna merah. (tidak hemat)
Ia memakai baju merah. (hemat)
c.
Menghindari
pemakaian kata yang bersininim dalam satu satuan kalimat.
Contoh:
Sejak dari pagi ia termenung.
(tidak hemat)
Sejak pagi ia termenung. (hemat)
Dari pagi ia termenung. (hemat)
d.
Tidak
menjamakkan kata-kata yang sudah jamak.
Contoh:
Tidak
hemat hemat
Para tamu-tamu para
tamu/ tamu-tamu
Para hadirin
hadirin
Beberapa-orang-orang beberapa
orang/ orang-orang
5. Kecermatan
Cermat dalam hal ini adalah
kalimat yang disusun tidak menimbulkan tafsiran ganda dan tepat dalam pilihan
kata.
Contoh:
Mahasiswa perguruan tinggi yang
terkenal itu menerima hadiah.
Kalimat di atas bisa bermakna
ganda, maksudnya orang yang membaca kalimat itu bisa memaknainya berbeda antara
orang yang satu dan lainnya. Orang yang membaca kalimat itu bisa menafsirkan yang
terkenal itu adalah mahasiswa dan
yang lain bisa menafsirkan yang terkenal itu adalah perguruan tinggi.
Kalimat itu harus dipertegas
dengan menggunakan kata penunjuk dari.
Contoh.
Mahasiswa dari perguruan tinggi yang
terkenal itu menerima hadiah.
6. Kepaduan
Kepaduan
yaitu pernyataan dalam kalimat itu tidak terpecah-pecah,
bertele-tele. Dengan kata lain kalimat yang disusun harus sistematis. Kalimat
yang padu harus mempergunakan
pola aspek + agen + verbal
secara tertib dalam kalimat yang berpredikan persona.
Contoh.
Surat itu saya sudah baca.
(Tidak padu)
Surat itu sudah saya baca.
(padu)
7. Kelogisan
Kelogisan yaitu ide kalimat dapat
diterima oleh akal dan sesuai dengan kaidah yang berlaku.
Contoh.
Waktu dan tempat kami persilakan.
(tidak logis)
Bapak Menteri kami persilakan.
(logis)
d.
Paragraf
1.
Pengertian
dan Syarat
Paragraf adalah suatu kesatuan
pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi dan lebih luas dari kalimat. Hal ini,
berarti sebuah paragrap harus lebih dari suatu kalimat tetapi hanya
memiliki atau membicarakan satu pokok permasalahan. Inti permasalahan itu akan
tergambarkan dalam kalimat inti atau kalimat utama sedangkan kalimat lainnya
berada dalam kalimat penjelas.
Sebuah paragraf harus memenuhi
berberapa syarat, yaitu kesatuan, kepaduan, dan perkembangan alinea. Berikut
ini kita bahas syarat-syarat tersebut secara rinci.
1.
Kesatuan
Paragraf
Kesatuan adalah sebuah paragrap
harus memiliki satu pokok pembicaraan. Akan tetapi, kesatuan disini jangan
diartikan bahwa ia hanya memuat satu hal saja. Sebuah alinea yang memiliki
kesatuan bisa saja mengandung beberapa hal atau beberapa perincian, tetapi
semua unsur tadi harus bersama-sama digerakkan untuk menunjang sebuah maksud
tunggal atau sebuah tema tunggal.
Karena fungsi setiap paragrap
adalah mengembangkan sebuah gagasan tunggal, maka tidak boleh ada unsur-unsur
yang sama sekali tidak mempunyai pertalian dengan maksud tunggal tadi.
Penyimpangan-penyimpangan dari maksud tunggal tadi hanya akan mempersulit
pembaca dan mempersulit titik pertemuan antara penulis dan pembaca.
Penyimpangan itu dapat berbentuk: (1) memasukan sebuah sisipan atau interupsi
yang jelas dalam urutan-urutan gagasan yang ada, (2) sebuah penyimpangan secara
gradual dari tema yang harus dibina oleh alinea itu.
Gagasan utama atau gagasan pokok
yang didukung oleh sebuah alinea biasanya ditempatkan dalam sebuah kalimat
topik atau kalimat utama. Sedangkan kalimat-kalimat lain yang turut membina
paragraf tersebut memuat perincian atau penjelasan mengenai ide yang ada dalam
kalimat utama. Kalimat-kalimat tersebut disebut sebagai kalimat penjelas atau
kalimat pengembang.
2.
Kepaduan
Syarat kedua yang harus dipenuhi
oleh sebuah paragrap adalah kepaduan. Hal ini, akan terjadi apabila hubungan
timbal-balik antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya yang membina
paragraf tersebut baik, wajar, dan mudah dipahami.
Untuk membentuk sebuah paragraf
yang padu kita harus memperhatikan masalah kebahasaan dan masalah
perincian atau urutan alinea.
a.
Masalah
kebahasaan
Masalah kebahasaan yang turut
mempengaruhi kepaduan sebuah paragraf adalah repetisi, kata ganti, dan kata-kata transisi.
1.
Repetisi
Kepaduan sebuah paragrap dapat
dibentuk dengan mengulang kata kunci, yaitu kata yang dianggap penting dalam
sebuah paragraf. Kehadiran kata kunci tersebut dalam kalimat-kalimat lainya
yang membentuk sebuah paragraf akan memelihara hubungan antara kalimat yang
satu dalan lainnya.
Contoh:
Bahasa merupakan alat yang baik
dalam pergaulan antarmanusia. Pergaulan antarmanusia merupakan pertemuan total antara manusia yang satu
dengan manusia lainnya. Tanpa bahasa pertemuan
dan pergaulan kita dengan orang lain
amat tidak sempurna
2.
Kata
ganti
Kata ganti merupakan gejala
universal, yaitu dalam berbahasa sebuah kata yang mengacu kepada manusia,
benda, atau hal tidak akan dipergunakan berulang-ulang dalam sebuah konteks
yang sama. Pengulangan kata yang sama tanpa suatu tujuan yang jelas
akan menimbulkan rasa yang kurang enak.
Dengan demikian dapat pula
berfungsi untuk menjalin kepaduan yang baik dan teratur di antara
kalimat-kalimat yang membina sebuah paragraf.
Contoh:
Adi dan Boy merupakan dua sahabat
yang akrab. Setiap hari keduanya selalu
kelihatan bersama-sama. Adilah yang selalu menjemput Boy ke sekolah karena
rumahnya lebih jauh letaknya dari rumah Boy. Mereka selalu siap sedia menolong kawan-kawannya
yang mengalami kesulitan.
3.
Kata
transisi
Kata transisi fungsinya terletak
antara kata ganti dan repetisi. Bila repetisi menghendaki pengulangankata kunci
sedangkan kata ganti tidak menghendaki pengulangan sebuah kata benda, maka
dalam kondisi ini ditempuhlah jalan tengah, yaitu dengan menggunakan kata
transisi.
Ada bermacam-macan kata atau
frasa transisi yang biasa dipergunakan dalam tulisan-tulisan ilmiah, misalnya;
a.
Hubungan
yang menyatakan tambahan, misalnya, lebih lagi, selanjutnya lalu, dan,
disamping itu, seperti halnya, kedua, dan sebagainya.
b.
Hubungan
yang menyatakan pertentangan, misalnya, tetapi, namun, bagaimanapun juga,
walaupun demikian, dan sebagainya.
c.
Hubungan
yang menyatakan perbandingan, misalnya, sama halnya, seperti, sebagaimana, dan
sebagainya.
d.
Hubungan
yang menyatakan akibat, misalnya, sebab itu, oleh sebab itu, oleh karena itu,
dan sebagainya.
e.
Hubungan
yang menyatakan tujuan, misalnya, untuk maksud itu, supaya, dan sebagainnya.
f.
Hubungan
yang menyatakan singkatan, misalnya, singkatnya, ringkasnya, misalnya, yakni,
dan sebagainya.
g.
Hubungan
yang menyatakan waktu, misalnya, sementara itu, sementara, sesudah, dan
sebagainya.
h.
Hubungan
yang menyatakan tempat, misalnya, di sisi, di situ, di seberang, dan
sebagainya.
b.
Perincian
dan urutan isi paragraf
Yang dimaksud dengan perincian
dan urutan isi paragraf adalah bagaimana mengembangkan sebuah gagasan utama dan
bagaimana hubungan dengan gagasan-gagasan bawahan yang menunjang
gagasan utama tadi. Gagasan utama yang terdapat dalam kalimat utama harus
dikembangkan melalui kalimat-kalimat pengembang tetapi tidak boleh kluar dari
gagasan utama tadi. Semua kalimat pengembang harus mendukung terhadap gagasan
utama. Selain itu, hubungan antara kalimat utama dan kalimat pengembang dan
antara kalimat pengembang dan kalimat pengembang harus terjalin.
2.
Jenis-jens
paragraf
Ada beberapa jenis paragran
di tinjau dari berbagai segi;
1.
Berdasar
sifat dan tujuannya, paragraf dapat dibedakan menjadi pragraf pembuka,
penghubung, dan penutup.
2.
Berdasarkan
letak kalimat utama, dapat dibedakan menjadi paragraf induktif, deduktif,
campuran, dan menyeluruh.
3.
Berdasakan
formatnya, dapat dibedakan menjadi, paragraf menjolok dan lurus.
e. Kutipan
1. Pengertian dan Jenis
Kutipan adalah pinjaman kalimat
atau pendapat dari seseorang pengarang atau pembicara yang ahli
dalam bidangnya, baik yang terdapat dalam buku maupun majalah.
Ada dua jenis
kutipan yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan
langsung adalah pinjaman pendapat dengan mengambil secara lengkap kata demi
kata, kalimat demi kalimat dari sebuah teks asli. Sedangkan, kutipan tidak
langsung yaitu pinjaman pendapat seseorang atau tokoh berupa inti sari dari
pendapat tersebut (kutipan isi).
2. Prinsip mengutip
Beberapa
prisnsip yang harus diperhatikan pada saat kita membuat kutipan, yaitu;
a.
Jangan
mengadakan perubahan
Pada saat malakukan kutipan
langsung, sorang penulis tidak boleh merubah kata-kata atau teknik dari teks
aslinya. Bila penulis menganggap perlu mengadakan perubahan tekniknya, maka ia
harus memberikan keterangan yang jelas bahwa telah diadakan perubahan tertentu.
b.
Bila
ada kesalahan
Bila dalam kutipan terdapat
kesalahan atau keganjilan penulis tidak boleh memperbaiki kesalahn-kesalahan
tersebut. Ia hanya mengutip apa adanya. Demikian halnya apabila penulis tidak
setujuterhadap suatu bagian dari kutipan itu.
Akan tetapi apabila kesalah yang
terjadi sangan mengganggu, penulis bisa melakukan perbaikan tetapi harus diberi
catatan atau perbaikan tersebut di simpan di dalam catatan kaki.
c.
Menghilangkan
bagian kutipan
Dalam mengutip diperkenankan
untuk menghilangkan bagian yang dianggap kurang perlu dengan syarat bahwa
penghilangan bagian tersebut tidak menimbulkan perubahan makna asalnya atau
makna keseluruhannya. Penghilangan
bagian tersebut bisan digantikan dengan menggunakan tiga titik berspasi […] jika
bagian yang dihilangkan tersebut berada di akhir, maka tiga titik
tadi ditambah satu titik akhir sebagai tanda akhir kalimat [….].
Bila bagian yang dihilangkan itu terdiri dari satu paragraf atau lebih, tanda
titik digunakan sepanjang satu baris halaman.
3. Cara-cara mengutip
Perbedaan kutipan langsung dan
kutipan tidak langsung akan membawa akibat yang berlainan pada saat
memasukannya dalam teks. Begitu pula cara membuat kutipan langsung,
caranya akan berbeda bila kutipan tersebut terdiri dari empat baris
dan yang lebih dari empat baris. Untuk lebih jelasnya, berikut ini
kita lihat cara masing-masing.
a.
Kutipan
langsung yang tidak lebih dari empat baris
Sebuah kutipan langsung yang
panjangnya tidak lebih dari empat baris ketikan, akan
dimasukan dalam teks dengan cara sebagai berikut:
1.
Kutipan
di integrasikan langsung dalam teks;
2.
Jarak
antarbaris sama dengan jarak antarbaris dalam teks;
3.
Harus
diapit oleh tanda kutip; dan
4.
Setelah
kutipan selesai diberi nomor urut penujukkan setengan spasi ke atas atau dalam
kurung ditempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman
tempat terdapatnya kutipan itu.
b.
Kutipan
langsung yang lebih dari empat baris
Bila sebuah kutipan terdiri dari
lima baris atau lebih, kutipan tersebut harus terpisan dari teks dengan
ketentuan sebagai berikut:
1.
Kutipan dipisah
dari teks dalam jarak 2,5 spasi
2.
Jarak
antarbaris dalam kutipan satu spasi;
3.
Boleh
mamakai tanda kutip atau tidak;
4.
Setelah
kutipan selesai diberi nomor urut penujukkan setengan spasi ke atas atau dalam
kurung ditempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman
tempat terdapatnya kutipan itu.
5.
Seluruh
kutipan menjolok antara 5 – 7 ketukan, bila kutipan itu dimulai dengan alinea
baru, baris pertama dari kutipan itu menjolok lagi 5 – 7 ketukan.
c.
Kutipan
tidak langsung
Dalam kutipan tidak langsung
biasanya hanya inti dari pendapat itu yang dimasukan. Sedangkan pilihan kata,
struktur kalimat, maupun bahasanya penulis itu sendiri yang merumuskannya, dengan
catatan isi pokok tetap tersampaikan. Ada beberapa ketentuan yang harus
diperhatikan dalam menulis kutipan tidak langsung, yaitu:
1.
Kutipan
diintegrasikan dengan teks;
2.
Jarak
antarbaris sama dengan teks;
3.
Kutipan
tidak diapit oleh tanda kutip;
4.
Setelah
kutipan selesai diberi nomor urut penujukkan setengan spasi ke atas atau dalam
kurung ditempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman
tempat terdapatnya kutipan itu.
SUMBER PUSTAKA
Akhaidah, sabarti, dkk. 1990. Pembinaan
Kemampuan menilis. Jakarta: Erlangga.
Arifin, E. Zaenal. 1991. Cermat Berbahasa
Indonesia. Jakarta: MSP.
Dahlan, M. Djawad. 1990. Pedoman Penulisan
Karya Ilmiah. Bandung: IKIP.
Keraf, Goeys. 1980. Komposisi. Ende. Flores:
Nusa indah
Encangsaepudin’s
Blog. (2009,
7 Januari). Dasar-Dasar Menulis. Diakses pada 10 April 2020, dari https://encangsaepudin.wordpress.com/2009/01/07/dasar-dasar-menulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar