Senin, 27 April 2020

TEORI MENULIS: Resume Buku Dasar-Dasar Menulis


Buku “Dasar-Dasar Menulis Dengan Penerapannya”
Dr. Zulkifli Musaba, M.Pd
Dr. Mohammad Siddik, M.Pd

A.        Pendahuluan
Mengarang atau disebut juga dengan istilah menulis merupakan keterampilan berbahasa yang paling penting dikuasai, setelah seseorang terlebih dahulu terampil mendengarkan (menyimak), berbicara dan membaca. Oleh karena itu, umumnya orang mengangggap atau berpendapat bahwa mengarang atau menulis itu sesuatu yang sulit. Perlu ditambahkan disini bahwa istilah mengarang dengan menulis tidak dibedakan.

Banyak pelajar atau mahasiswa yang lemah sekali kemampuan mengarangnya. Mereka ataupun kita tampaknya lebih terbiasa melakukan kegiatan berkomunikasi secara kegiatan komunikasi secara lisan atau berbicara. Artinya jika kita dibandingkan dengan kegiatan komunikasi menulis atau mengarang jauh lebih rendah kadar nya. Hal ini mungkin yang menyebabkan kita merasa asing atau terkadang tidak mampu melakukan kegiatan mengarang sebagai perwujudan bentuk komunikasi tertulis. Pada kita semuatentu  tidak bisa melepas diri dari kegiatan ini. Walaupun dalam hal-hal sederhana seperti menulis surat atau menyampaikan kabar/informasi tertulis kepada keluarga, kenalan, rekan sekerja, dan kepada siapa saja yang kita perlukan. Bagi para wartawan juga setiap harinya selalu berurusan dengan bahasa  tulis disampaikan melakukan kegiatan bahasa lisan seperti berwawancara dengan orang-orang yang menjadi sumber berita. Mereka yang mengaktifkan  diri pada organissasi, tentu sering membuat laporan atau harus membuat semacam kesimpulan suatu rapat, seminar, diskusi, dan kegiata lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kita sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari perbuatan menulis. Mereka yang bekerja suatu instansi atau kantor tertentu, tidak jarang diminta oleh pimpinan atau atasannya untuk memberikan  sambutan tertulis, yang sedikit banyaknya harus dirancang terlebih dahulu. Begitulah seharusnya, semua kita sebaiknya berupaya untuk memperbaiki atau meningkatkan kemampuan kita dalam menulis.

Kepandaian seseorang dalam mengarang untuk selalu ditentukan oleh tinggi rendahnya tingkat pendidikan, tetaapi lebih banyak ditentukan oleh kuat dan kerasannya kemauan, banyak latihan yang dilakukan (rutin), dan tentu saja faktor bakat yang  juga mempengaruhi “jadinya” seseorang membentuk dirinya sebagai penulis. Jelaslah bahwa, faktor bakat jika tidak dikembangakan, maka ia bagaikan mutiara yang terpendam di dasar laut. Kita harus melakukan penyelaman dengan peralatan dan perbekalan yang cukup, agar bisa menemukan mutiara itu untuk kita gosok hingga bercahaya dan memikat bagi siapa yang melihatnya.

Menurut Pembudi dalam bukunya yang berjudul “Cara Menulis Buku Non Fiksi dan Petunjuk bagi Pengarang” menyatakan bahwa menjadi pengarang, calon pengarang harus belajar sendiri; salah satu caranya ialah dengan mulai mengarang dan meneruskannya sampai. Dengan demikian, jelaslah bahwa kepandaian mengarang hanya diperoleh dengan banyak melatih diri untuk mengarang. Oleh karena itulah, segala macam buku yang berisi penuntun atau petunjuk pengarang, pada akhirnya hanyalah alat bantu atau sebagai penunjang bagi calon pengarang. Walaupun demikian kita harus tetap banyak mengkaji atau menelaah buku-buku atau bahan bacaan yang membicarakan atau yang memberi arahan tentang kegiatan karang-mengarang yang kini sudah banyak bereadar atau dijual di kotoko buku.

1.         Menulis  sebagai Bentuk Keterampilan Berbahasa
Keterampilan menulis atau dengan sebutan menulis merupakan suatu bentuk keterampilan berbahasa  disamping ketiga keterampilan yang lain, yaitu keterampilan mendengarkan (menyimak), keterampilan berbicara dan keterampilan membaca. Keempat keterampilan itu pada dasarnya merupakan satu kesatuan atau catur tunggal (Tarigan, 1982:1).

Keempat keterampilan berbahasa itu saling berkaitan satu sama lain. Pemerolehan keempat keterampilan ini ada yang didapat atau dikuasai secara alamiah (secara sendirinya ) seperti mendengarkan  dan berbicara. Walaupun dalam proses selanjutnya kedua keterampilan ini ada yang dikuasai melalui cara-cara formal atau secar khusus, misalnya dalam rangka tujuan-tujuan praktis seperti upaya mengkaji sejauh mana seseorang mampu menyerap atau mengkap apa yang didengar dan mempelajari atau melatih diri dalam meningkatkan  pengusaan bahasa lisan seperti adanya kursur pidato, keprotokolan dan termasuk pula latihan/praktik mengajar bagi calom guru. Selain itu, ada pula yang mengadakan pendalaman keempat keterampilan berbahasa tersebutseperti para mahasiswa yang berstudi pada jurusan Bahasa pada Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan atau FKIP. Mereka bertahun-tahun mengikuti perkuliahan keterampilan-keterampilan berbahasa sebagai bekal untuk menjadi guru atau pengajar bahasa. Secara umumpara  mahasiswa ssebenarnya juga mempelajari keterampilan-keterampilan itu, penekanannya lebih banyak pada keterampilan menuliskarya ilmiah, misalnya dengan adanya penyajian mata kuliah Bimbingan Skripsi dan sejenisnya.Oleh karena itu, dapat kita katakana bahwa menulis merupakan bahan studi atau sumber telaah yang dapat dalam dan mempuunyai sejumlah teori acuan yang mendasar sebagai salah satu dari empat keterampilan berbahasa.

2.         Pengertian Menulis
Untuk mendefinisikan atau membuat suatu pengertian tentang sesuatu atau hal tertentu tidakah mudah.banyak yang diantara terbiasa menyebutkan sesuatu baaik benda, perbuatan atau peristiwa, tetapi bila ditanyakan apa yang kita katakan itu, maka sangat sulit bagi kita untuk menjawabnya. Karen awajar saja jika orang yang berpendapat bahwa mendefinisikan sesuatu secara tidak pernah tercapai. Ada pula yang menyatakan bahwa seseorang sama, hanya tepat dengan sesuatu itu. Benda A hanya  sama dengan benda A, dan seterusnya. Pendifinisian seperti ini tentu sekali tidak memberikan kejelasan malah bisa lebih menggabung . Oleh karena itu, sebaiknya kita berusaha membuat suatu pengembangan apa saja yang memang kita perlukan.

3.         Tujuan Menulis
Secara garis besar, penulis dengan tulisannya berupaya untuk memberikan atau menyampaikan segala bentuk dan macam informasi kepada pembaca. Tentu saja penulis dengan karyanya itu berharap agar pembaca menerima semua yang diungkapkannya sebagai masukan yang berharga. Disini ada semacam unsur yang memengaruhi dari penulis kepada pembaca. Bila tujuan penulis tercapai, maka dengan sendirinya pembaca telah merasa mendapatkan sesuatu dari penulis.

Dengan demikian, kita tidak bisa memisahkan antara tujuan menulis dengan tujuan penulis itu sendiri. Penulis melalui pengungkapannya mengharapkan apa-apa yang diungkapkannya itu bisa sampai sesuai dengan konsep berpikir penulis yang tertuang dalam karangan. Disini tidak akan terjadi penyimpangan atau salah penerimaan. Oleh karena itu, sudah selayaknya penulis membuat atau menyusun tulisannya dengan bahasa yang mudah dipahami, jelas dan penyajian  yang sistematis atau teratur.

4.         Menulis Sebagai Kegiatan Tertulis
Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa menulis adalah suatu keterampilan berbahasa yang bertujuan untuk memberikan segala bentuk informasi dari penulis kepada pembaca. Pemberian informasi pada hakikatnya merupakan proses komunikasi. Keterampilan berbahasa ini bisa diartikan sebagai wujud kemampuan dalam berkomunikasi lebih singkat lagi dapat dikatakan bahwa berbahasa berarti berkomunikasi atau melakukan hubungan antar manusia.

Komunikasi melalui bahasa dapat berwujud lisan (melalui berbicara) dan dapat pula berwujud tulisan. Karenanya, menulis disebut juga bentuk kegiatan  komunikasi tertulis (komunikasi tidak langsung antara penulis dengan pembaca).

B.        Teori Dasar Menulis
Jika kita pergi ketoko-toko buku , maka  tidak sedikit kita temukan buku yang menguraikaan tentang tulis menulis. Ada buku yang khusus membahas cara membuat jenis karang tertentu seperti; petunjuk menyusun atau menulis karangan ilmiah, bagaimana menulis karangan kesusastraan, dan untuk keperluan kerangan yang lain.

Bagaimana lengkap dan jelasnya buku tentang tulis menulis itu, pada akhirnya hanya sebagai penuntun atau penunjang. Sebagai calon pengaranglah yang menentukan berhasil  tidaknya dalam membuatu suatu karangan karangan yang baik. Namun demikian, tentu saja segala buku yang membicaraakan tentang tulis menulis atau karang mengarang tetap diperlukan dan patut dipelajari sebagi bekal kita daalam menyusun suatu karangan.

Apa yag dikemukakan dibaagian teori dasar menulis ini bukan suatu kemutlakan yang harus dijadikan sebagai acuan dalam proses menulis. Namun demikian, secara umum bahwa kegiatan atau langkah yang ditempuh dalam menulis paling tidak ada lima bagian yaitu : penentuan tema dan judul karangan, perumusan masalah, dan pembatasan masalah, penetapan metode penulisan  dan yang berhubungan dengan tujuan penulisan, pembuat garis-garis, apa yang akaan dimuat dalam karangan atau kerangka karangan daan hal-hal yang berhubungan dengan penataan karangan.

Dengan demikian, khususnya bagi penulis pemula, bagi pelajar dan mahasiswa perlu mengetahui langkah-langkah dasar, yang boleh kita katakana sebagai teori sederhana dalam mengarang.

1.         Penentuan Tema dan Judul
Menurut Goreys Keraf (1980:107) memberikan suatu batasan tentang tema, yaitu suatu amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan Poerwadarminta yang diolah kembali oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa disebutkan bahwa arti kata tema , antara lain adalah pokok pikiran atau dasar cerita (yang  dipakai sebagai dasar mengarang).

Dengan memerhatikan uraian diatas , dapat ditarik kesimpulan bahwa tema adalah amanat yang disampaikan penulis melalui karangannya, yang menjadi inti atau isi pokok karangan.

Disamping itu, kita sering menemukan istilah tema dari sudut lain, yaitu yang biasa kita dengar atau kita baca pada spanduk atau pengumuman dalam kegiatan tertentu. Misalnya, dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan, oleh panitia peringatan dibuatkan tema tertentu. Sehubungan dengan Hari Anak-Anak, bisa juga ditemui tema yang dipilih dan menjiwai setiap acara yang diselenggarakan. Untuk Hari Sumpah Pemuda, ada pula temanya. Setiap tahun peringatan temannya tidak selalu sama. Ada pula dalam rangka kegiatan seminar, diskusi, musyawarah, dan pertemuan lainnya, dibuatkan orang temanya. Begitulah seterusnya. Jadi, tema merupakan pusat perhatian atau inti pembicaraan, dapat pula disebut semacam kebutuhan pemikiran. Untuk itu, biasanya setiap tema dirumuskan secermat dan setepat mungkin.

















Sumber :
Nurulmisbah. (31 Maret 2016). Teori Menulis: Resume Buku Dasar-Dasar Menulis. Diakses pada 28 April 2020, pada https://nurulmisbahhasanbasri.blogspot.com/2016/03/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html?showComment=1588036845573#c5990359833279451432

1 komentar: